Dari Limbah Jadi Mahakarya, Batik Lamongan Masuk Tiga Besar DPD RI Awards 2026, Ning Lia Terpesona

Dari Limbah Jadi Mahakarya, Batik Lamongan Masuk Tiga Besar DPD RI Awards 2026, Ning Lia Terpesona

LAMONGAN, Narasizone – Anggota DPD RI asal Jawa Timur periode 2024–2029, Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., memberikan sorotan khusus terhadap kiprah Endang Dzunuraini, pendiri Sanggar Batik Mbah Guru di Kabupaten Lamongan. Selama kurun waktu 10 tahun, Endang dinilai sukses mencetak sejarah dengan mengenalkan seni membatik kepada lebih dari 20 ribu pembelajar.

Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh senator yang akrab disapa Ning Lia saat melakukan peninjauan lapangan dalam rangka verifikasi kandidat tiga besar DPD RI Awards 2026 kategori Pelestari Budaya Daerah, Jumat (23/10/2026).

Dalam kunjungan strategis tersebut, Ning Lia hadir bersama Anggota DPD RI asal Jawa Timur AA Ahmad Nawardi, Sekretaris Jenderal DPD RI Komjen Pol. Mohammad Iqbal, serta Wakil Bupati Lamongan Dirham Akbar Aksara.

Ning Lia menilai keberhasilan Endang menjadi bukti autentik bahwa kreativitas masyarakat desa mampu bermetamorfosis menjadi gerakan pelestarian budaya, pendidikan, sekaligus pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

“Sepuluh tahun dengan lebih dari 20 ribu murid itu waktu yang sangat singkat. Artinya, Mbak Endang memiliki karya yang benar-benar diterima oleh masyarakat,” ujar Ning Lia.

Menurutnya, pencapaian tersebut tidak hanya diukur dari kuantitas pembelajar, melainkan pada kemampuannya menghidupkan kembali nyawa budaya lokal melalui pendekatan edukasi yang berkelanjutan. Ning Lia secara khusus juga memuji latar belakang Endang sebagai alumnus ilmu sastra yang mampu mengonversi teori akademiknya menjadi mahakarya nyata.

“Di sinilah kita melihat bagaimana keilmuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan bisa dikolaborasikan menjadi sebuah karya yang memberikan dampak sosial tinggi,” tegasnya.

Inovasi Pewarna Alami dan Katalisator Daerah

Daya tarik utama dari Sanggar Batik Mbah Guru terletak pada inovasi pemanfaatan limbah pertanian dan kekayaan alam sebagai bahan baku pewarna alami. Beragam material seperti bunga telang, akar mengkudu, tanaman indigo, hingga sabut kelapa diekstraksi sedemikian rupa menjadi pewarna batik tulis yang eksotis.

Bagi Ning Lia, inovasi organik ini sangat krusial karena berhasil mengawinkan aspek pelestarian budaya dengan kepedulian lingkungan hidup, sekaligus menggerakkan roda ekonomi desa. Hal ini sangat sejalan dengan filosofi DPD RI Awards 2026.

“Ada karya-karya luar biasa yang lahir dari daerah. Di titik itulah DPD RI hadir untuk mengambil peran sebagai katalisator bagi daerah,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Anggota DPD RI AA Ahmad Nawardi mengaku takjub dengan kemandirian Endang dalam memberdayakan masyarakat pelosok. “Melahirkan kembali budaya batik yang sudah lama mati tanpa bergantung kepada siapa pun, hanya dengan kesadaran sendiri, ini adalah dedikasi yang perlu kita apresiasi penuh,” ujar Nawardi.

Sementara itu, Sekjen DPD RI Komjen Pol. Mohammad Iqbal menjelaskan bahwa ajang DPD RI Awards yang memasuki tahun kedua ini diikuti oleh sekitar 1.500 nominator dari seluruh penjuru Nusantara.

“DPD RI ingin memberikan panggung kepada anak-anak bangsa yang selama ini jauh dari kamera dan sorotan publik. Mereka ibarat lilin-lilin kecil yang terus menyala untuk kepentingan bangsa dan negara, memberikan inspirasi nyata bagi masyarakat luas,” urai Iqbal.

Di sisi pemerintah daerah, Wakil Bupati Lamongan Dirham Akbar Aksara menyampaikan rasa terima kasih sekaligus kebanggaannya atas pencapaian Sanggar Batik Mbah Guru di kancah nasional.

“Kami atas nama Pemkab Lamongan berharap besar Sanggar Mbah Guru bisa menjadi juara di DPD RI Awards 2026. Keberhasilan ini tidak hanya menginspirasi para seniman batik, tetapi juga memacu sektor pertanian daerah, khususnya untuk budidaya tanaman pewarna alami,” pungkas Dirham.

PT Narasi Zone