Senator Jatim Lia Istifhama Terpesona Batik Alami Lamongan, Sebut Rugi Jika Tak Mampir ke Sanggar Mbah Guru

Senator Jatim Lia Istifhama Terpesona Batik Alami Lamongan, Sebut Rugi Jika Tak Mampir ke Sanggar Mbah Guru

LAMONGAN, Narasizone – Di balik keindahan selembar kain batik, tersimpan kekayaan alam, ketekunan tangan para perajin, serta warisan budaya yang terus dijaga. Pesona otentik itulah yang membuat Anggota Komite I DPD RI asal Jawa Timur (2024–2029), Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., terpikat saat menyaksikan langsung keindahan batik tulis karya Sanggar Batik Mbah Guru di Kabupaten Lamongan.

Senator yang akrab disapa Ning Lia itu tak kuasa menyembunyikan kekagumannya melihat bahan-bahan sederhana dari alam mampu disulap menjadi karya seni bernilai tinggi. Kekaguman tersebut disampaikan langsung saat ia mengunjungi sanggar milik Endang Dzunuraini pada Jumat (23/10/2026).

Dalam lawatannya, Ning Lia melihat dari dekat deretan koleksi batik tulis bermotif khas Lamongan yang diproses menggunakan pewarna alami. Bahan-bahan seperti bunga telang, akar mengkudu, tanaman indigo, hingga sabut kelapa diekstraksi menjadi pewarna yang menghadirkan karakter dan gradasi warna unik pada setiap lembar kain.

“Cakep banget. Batik tulis asli Lamongan,” puji Ning Lia saat mengamati detail koleksi batik yang dipamerkan.

Bagi putri tokoh NU KH Masykur Hasyim ini, keindahan batik tersebut bukan sekadar soal motif dan warna visual. Terdapat kreativitas, ketekunan, serta nafas perjuangan menjaga warisan leluhur yang patut untuk terus dikembangkan. Ia menilai Sanggar Batik Mbah Guru sukses membuktikan bahwa kekayaan alam dan budaya daerah dapat berjalan harmonis dengan inovasi ekonomi kreatif.

Inovasi Pewarna dari 100 Jenis Tanaman dan Limbah Tani

Sementara itu, pendiri Sanggar Batik Mbah Guru, Endang Dzunuraini, memaparkan bahwa pihaknya mengelola kebun khusus yang ditumbuhi lebih dari 100 jenis tanaman sebagai bahan baku pewarna alami.

“Kami menggunakan pewarna alami yang bisa diregenerasi. Di kebun kami, ada lebih dari 100 jenis tanaman pewarna alami yang dimanfaatkan secara langsung untuk produksi batik,” urai Endang.

Menariknya, bahan pewarna di sanggar ini tidak sebatas pada tanaman yang sengaja dibudidayakan. Endang berinovasi memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini kerap diabaikan masyarakat untuk diolah menjadi bahan pewarna bernilai ekonomi. Salah satunya adalah pemanfaatan sabut kelapa yang kini menjadi elemen esensial dalam proses kreatif batik tulis khas Lamongan tersebut.

Selain mengandalkan warna alami, Sanggar Batik Mbah Guru juga kukuh mempertahankan identitas budaya pesisir melalui motif-motif orisinal yang terinspirasi dari keindahan bunga melati dan bunga tanjung. Di sisi lain, Endang mengaku terus meriset selera pasar internasional agar batik tulis Lamongan mampu berekspansi secara global tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Melihat dedikasi dan inovasi tersebut, Ning Lia berharap Sanggar Batik Mbah Guru ke depan tidak hanya dikenal sebagai sentra produksi, tetapi juga berkembang pesat menjadi destinasi wisata edukasi terpadu dan episentrum ekonomi kreatif masyarakat Lamongan.

Menutup kunjungannya, senator yang dikenal lekat dengan UMKM ini melontarkan ajakan khusus kepada para pelancong yang sedang menjejaki Jawa Timur. “Kalau ke Jawa Timur, rasanya rugi sekali kalau tidak mampir ke Lamongan, lebih tepatnya ke Sanggar Batik Mbah Guru. Batik tulis asli Lamongan ini sangat bagus dan wajib dikoleksi,” pungkas Ning Lia.

PT Narasi Zone