SURABAYA, Narasizone – Momen kelulusan akademik tidak selamanya hanya dihiasi selebrasi dan senyum bahagia. Bagi sebagian wisudawan, hari bersejarah itu juga menyimpan ruang rindu yang mendalam akan kehadiran sosok orang tua.
Suasana haru nan emosional tersebut turut dirasakan oleh Anggota Komite I DPD RI asal Jawa Timur (2024–2029), Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., saat menghadiri pelepasan wisudawan Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Sabtu (24/10/2026).
Senator yang akrab disapa Ning Lia ini hadir secara khusus mewakili sang kakak, almarhumah Fentin Istifaiyah, guna mendampingi keponakan tercintanya, Aura Fatkiyah Langitzenia (Kia), yang tengah menjalani prosesi Wisuda ITS ke-134. Kehadiran ini menjadi wujud kasih sayang keluarga sekaligus dukungan moral yang luar biasa bagi wisudawan yang harus melewati momen puncak akademiknya tanpa kehadiran orang tua.
Ketegaran di Balik Toga Kelulusan
Mendapat kehormatan memberikan sambutan mewakili orang tua wisudawan, Ning Lia menyampaikan pesan penuh empati. Ia menyentuh hati para lulusan yang mungkin memiliki nasib serupa, tak lagi bisa didampingi orang tua secara lengkap di hari wisuda.
“Semoga Mbak Kia dan juga wisudawan lainnya yang saat ini tidak bisa didampingi orang tua secara lengkap karena telah dipanggil ke hadapan Ilahi, senantiasa diberikan ketegaran, kesabaran, dan tetap yakin untuk menatap kesuksesan ke depan. Aamiin,” tutur putri almarhum KH Masykur Hasyim tersebut.
Pesan ini menjadi pengingat mendalam bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari raihan IPK, melainkan dari kemampuan seseorang untuk tetap teguh berdiri di tengah kehilangan demi merajut masa depan.
Tantangan Ekonomi Kreatif dan Globalisasi
Beranjak dari pesan kemanusiaan, Ning Lia memberikan apresiasi tinggi terhadap ekosistem pendidikan di Departemen DKV ITS. Ia menilai, para lulusan telah ditempa melalui proses panjang—mulai dari riset, tugas akhir, sidang, hingga pameran karya—yang menuntut ketekunan dan kedisiplinan.
“Kita semua berbangga hati. DKV ITS merupakan ekosistem pendidikan yang secara brilian menguatkan teknologi, kreativitas, strategi, dan manajerial. Ini bekal berharga untuk merespons perkembangan industri kreatif serta preferensi global,” tegasnya.
Ning Lia mendorong para lulusan agar tidak sekadar puas menjadi desainer, ilustrator, atau animator, melainkan berevolusi menjadi inovator. Cakupan DKV yang sangat luas—mulai dari periklanan, *branding*, animasi, gim, hingga film—membuka peluang besar bagi lulusan ITS untuk menjadi motor penggerak ekonomi kreatif Indonesia.
“Miliki prinsip how to think untuk menjadi penguasa dunia kreatif. Terus kuatkan elaborasi, kolaborasi, dan konvergensi digital. Kenali core business digital dan padukan dengan tren global,” pesannya.
Memaknai ‘Advancing Humanity’
Menyelaraskan dengan semboyan kebanggaan ITS, Ning Lia memaparkan bahwa Advancing Humanity (Memajukan Kemanusiaan) bukan semata memajukan teknologi. Setinggi apa pun ilmu pengetahuan dan secanggih apa pun sebuah inovasi visual, nilai tertingginya baru tercapai ketika karya tersebut mampu menjaga martabat manusia dan membangun peradaban.“Saya berharap para wisudawan DKV ITS tidak hanya menjadi insan kreatif yang unggul dalam berkarya, tetapi juga pribadi yang humanis, peka terhadap persoalan sosial, dan menjadikan kreativitas sebagai jalan untuk memuliakan kehidupan masyarakat,” pesannya.
Acara pelepasan wisudawan ini turut dihadiri oleh jajaran penting civitas akademika, di antaranya Kepala Departemen DKV ITS Dr. Rahmatsyam Lakoro, S.Sn., M.T., Sekretaris Departemen DKV Dr. Sabar, S.E., M.M., Ketua Himpunan Mahasiswa DKV Chairunnisa Nabila Indah Pramesti, serta para alumni dan keluarga.
Menutup sambutannya dengan hangat, Ning Lia menyisipkan pantun sebagai doa pengiring langkah para lulusan ke dunia profesional:
Ikan lele, ikan sepat,
Ikan cakalang, ikan tuna.
Mahasiswa DKV wisuda ke-134,
Insyaallah karier gemilang di depan mata.
“Teruslah berkarya, berkolaborasi, dan jangan pernah berhenti belajar untuk menguatkan Indonesia,” pungkas Ning Lia.





