SURABAYA, Narasizone – Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Sekretariat Jenderal DPD RI membuka ruang dialog kritis bagi sivitas akademika melalui seminar DPD Goes to Campus di Ruang Bima Suci, Airlangga Convention Center (ACC), Kamis (15/10/2026).
Mengusung tema “Mengenal Lebih Dekat DPD RI: Rumah Perjuangan Daerah dan Masa Depan Demokrasi Indonesia”, forum ini hadir untuk menggembleng kesadaran politik generasi muda. Melalui diskusi interaktif tersebut, mahasiswa didorong untuk tidak alergi terhadap politik, melainkan berani menguji gagasan dan mengambil peran aktif mengawal keberlanjutan demokrasi nasional.
Ruang Dialog dan Berpikir Kritis
Wakil Rektor Bidang Ekosistem Entrepreneurial dan Pengembangan Bisnis Unair, Prof. Dr. Koko Srimulyo, Drs., M.Si., menegaskan peran krusial kampus dalam menyediakan wadah bagi pertemuan berbagai gagasan secara terbuka dan akademis.
“Berpikir kritis itu bukan sekadar mencari apa yang salah, melainkan mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, memeriksa informasi secara cermat, memahami persoalan dari berbagai perspektif, serta membangun argumentasi berbasis data yang akurat,” tegas Prof. Koko.
Ia mengajak para mahasiswa untuk memanfaatkan forum tersebut secara maksimal. Mahasiswa diharapkan tidak hanya datang sebagai pendengar, melainkan aktif memahami, bertanya, dan menguji gagasan dari sudut pandang yang luas.
Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) tersebut, mahasiswa yang hadir saat ini adalah calon pengisi ruang pengabdian bangsa di masa depan, baik di ranah pemerintahan, legislatif, maupun profesional.
“Demokrasi tak hanya ditentukan lembaga negara, tetapi juga kualitas masyarakatnya. Apa pun profesi yang dipilih nanti, kemampuan memahami masyarakat dan berpartisipasi secara bertanggung jawab adalah bekal utama,” pesannya.
Meritokrasi dan Politik Konstruktif
Dalam kesempatan yang sama, Anggota DPD RI asal Jawa Timur yang juga alumnus Unair, Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I. atau yang akrab disapa Ning Lia, memaparkan bahwa eksistensi DPD RI merupakan wujud sikap egaliter dan penerapan prinsip meritokrasi di Indonesia. Lembaga ini membuka ruang kepemimpinan berbasis kapasitas bagi putra-putri daerah tanpa harus terikat sekat partai politik.
“Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita hidup di negara demokrasi di mana aktivitas politik akan selalu ada. Kuncinya adalah bagaimana generasi muda mau mencintai dan terlibat dalam politik dengan gagasan yang bersifat konstruktif, bukan destruktif,” jelas Ning Lia.
Senator asal Jatim tersebut menekankan bahwa berpolitik pada hakikatnya adalah sebuah seni (politics as an art) yang bertumpu pada empat pilar utama, yakni Strategy, Equity, Nation, dan Integrity (SENI).
“Kita membutuhkan strategi yang matang, keadilan otonomi daerah, serta orientasi jangka panjang demi keberlanjutan bangsa. Yang tak kalah penting adalah integritas—kita butuh pembuktian kerja nyata, bukan sekadar retorika,” paparnya.
Sebagai penutup, Ning Lia mengajak jajaran Ksatria Airlangga untuk tidak ragu menyuarakan gagasan daerah. Menurutnya, aspirasi dan masukan kritis dari kalangan mahasiswa sangat dibutuhkan untuk mengawal kebijakan otonomi daerah serta perimbangan keuangan pusat dan daerah yang berkeadilan.





