BANGKALAN, Narasizone – Jawa Timur dinilai memiliki potensi raksasa untuk menjadi gerbang baru Nusantara melalui penguatan tradisi keilmuan, pendidikan, dan nilai-nilai Islam. Namun, potensi tersebut baru bisa optimal jika generasi muda dilibatkan secara aktif agar warisan intelektual Islam tidak hanya mandek sebagai catatan sejarah, melainkan menjelma menjadi kekuatan penentu untuk menjawab tantangan zaman.Gagasan strategis ini disampaikan oleh Anggota Komite I DPD RI asal Jawa Timur (2024–2029), Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., saat mengajak mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) berperan aktif membangun peradaban dari Timur. Menurutnya, kemajuan peradaban tidak cukup hanya bertumpu pada romantisme kejayaan masa lalu, tetapi harus diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan karakter, dan kemanfaatan nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan senator yang akrab disapa Ning Lia itu saat menjadi narasumber utama dalam *Islamic Talkshow* bertajuk “Membangun Peradaban dari Timur: Kontribusi Nilai-Nilai Islam bagi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara” di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer, UTM, Rabu (21/10/2026).
Turut hadir dalam forum akademik yang dimoderatori oleh Moh Miqdad Ilmi ini, Anggota DPRD Jawa Timur Lora Nasih Aschal; Dekan Fakultas Keislaman UTM Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I.; Wakil Dekan I Dr. Firman Setiawan, S.H.I., M.E.I.; Wakil Dekan II Muhammad Ersya Faraby, S.E.I., M.SEI.; Wakil Dekan III Fajar, S.H.I., M.H.; serta jajaran dosen dan pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa).
Tradisi Keilmuan dan ‘Benevolent Society’
Dalam paparannya, Ning Lia menegaskan bahwa pembangunan peradaban membutuhkan tradisi keilmuan yang kuat untuk menjembatani nilai agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Ia membedah konsep benevolent society —sebuah tatanan masyarakat yang mengedepankan kebaikan bersama dan kemanfaatan sosial.
“Peradaban yang kuat tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia, solidaritas, integritas, dan kepedulian terhadap sesama,” tuturnya.
Secara filosofis, Ning Lia memaparkan tiga pendekatan epistemologi Islam sebagai pijakan, yakni bayani (bertumpu pada teks), irfani (pengalaman spiritual), dan burhani (penalaran rasional). Menurutnya, sintesis ketiganya mampu membangun tradisi keilmuan yang memadukan nilai agama, kedalaman spiritual, dan rasionalitas, sejalan dengan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan dari Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi.
Menarik benang merah antara pemikiran klasik dan ekonomi modern, keponakan Khofifah Indar Parawansa ini turut menyandingkan pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai hubungan sosial dengan gagasan Adam Smith tentang ketergantungan antarmanusia. “Keduanya menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa kehidupan masyarakat dibangun melalui kerja sama yang membutuhkan solidaritas dan kepedulian sosial,” jelasnya.
Peran Pesantren dan Karakter ‘SANTRI’
Sebagai putri ulama KH Masykur Hasyim, Ning Lia menilai pesantren memiliki peran sangat strategis di Nusantara. Pesantren bukan sekadar pusat pendidikan agama, tetapi kawah candradimuka pembentukan karakter.
Mengutip pepatah syubbanul yaum rijalul ghod* (pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan), ia merumuskan konsep SANTRI sebagai panduan karakter adaptif bagi generasi muda: Smart (Kecerdasan), Adaptability (Kemampuan beradaptasi), Networking (Membangun jejaring), Toughness (Ketangguhan), Responsibility (Tanggung jawab), dan Integrity (Integritas).
Digitalisasi Khazanah Ulama dan Internalisasi Nilai
Sementara itu, Kepala BPSDM Jawa Timur, Dr. Ramliyanto S., yang hadir mewakili Gubernur Jatim, menyoroti jejak panjang perkembangan Islam di wilayahnya. Ia menyebut keberadaan makam Fatimah Binti Maimun, tradisi Wali Songo, hingga 7.347 pesantren di Jatim sebagai warisan berharga.
“Khazanah keilmuan para ulama ini perlu terus diinventarisasi dan didigitalisasi agar dapat diakses generasi berikutnya. Dengan demikian, warisan intelektual Islam menjadi sumber pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman,” tegas Ramliyanto.
Senada dengan hal itu, Rektor UTM Prof. Dr. Syafi’, S.H., M.H., mengingatkan agar identitas keislaman tidak berhenti pada simbol seperti sarung dan kopiah. Menyitir ungkapan al-Islamu mahjubun bil-muslimin (citra Islam dapat tertutupi oleh perilaku pemeluknya), ia menekankan bahwa nilai-nilai positif Islam harus tercermin dalam karakter dan pola pikir.
Gubernur BEM Fakultas Keislaman UTM, M. Fathul Amin Firdaus, menyambut baik diskursus ini. “Melalui forum akademik ini, pembangunan peradaban dari Timur menjadi ajakan bagi generasi muda untuk menghubungkan kekayaan sejarah dan intelektual Islam dengan kebutuhan masa kini. Jawa Timur memiliki modal penting yang pengembangannya menuntut kontribusi nyata dari kita semua,” pungkasnya.





