Narasizone, Jatim – Upaya Partai Amanat Nasional (PAN) mendekati kalangan Nahdliyin, khususnya kader muda NU, kembali menjadi sorotan. PAN sebelumnya memperkenalkan diri sebagai “Partai Anak Nahdliyin” dalam sejumlah momentum politik.
Pendekatan tersebut terlihat saat Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, melalui kehadiran elite PAN dan ruang publik “Teras de’PAN”.
Namun, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur Musaffa Syafril mempertanyakan konsistensi klaim tersebut di tengah adanya keluhan dari sejumlah kader.
“Banyak laporan yang masuk kepada kami. Ada kader yang mengaku dipindahkan ke daerah lain dengan jarak yang sangat jauh tanpa penjelasan yang memadai. Kader-kader ini sudah lama mengabdi mendampingi masyarakat desa. Kalau kemudian dipindahkan secara tiba-tiba, tentu muncul pertanyaan: ada apa?” kata Musaffa.
Ia meminta kebijakan terkait penempatan dan pemindahan tenaga pendamping desa dilakukan secara transparan. Terlebih, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal saat ini dipimpin Yandri Susanto yang merupakan elite PAN.
“Sulit bagi saya untuk selalu berpikir positif ketika banyak kader menyampaikan pengalaman yang sama. Apalagi pucuk pimpinan Kementerian Desa PDT adalah elite politik PAN,” tegasnya.
Musaffa menilai pendekatan PAN kepada Nahdliyin harus dibuktikan melalui tindakan, bukan sebatas slogan politik.
“Jangan sampai Nahdliyin hanya dijadikan objek pendekatan ketika membutuhkan suara. Ketika membutuhkan dukungan, disebut saudara; ketika kepentingan politik selesai, kader-kadernya justru dipinggirkan,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut klaim PAN sebagai “rayuan gombal politik” jika tidak diikuti perubahan nyata.
“Nahdliyin bukan pasar suara. Kader muda NU bukan properti politik yang bisa dirayu ketika dibutuhkan. Kalau PAN benar-benar ingin menjadi rumah bagi Nahdliyin, buktikan dengan kebijakan yang adil,” pungkasnya.





